Thursday, 23 October 2014

Tinggal Landas Menuju Puncak Keberhasilan Melalui Tranformasi Bisnis

PTPN VII) (Persero) adalah salah satu BUMN yang bergerak di bidang agribisnis perkebunan. Didirikan untuk ambil bagian  dalam melaksanakan dan menunjang  kebijaksanaan  dan  Program  Pemerintah di  bidang  ekonomi  dan  Pembangunan  Nasional serta  sub-sektor  perkebunan. Tujuannya,  untuk menghasilkan  barang/jasa  bermutu tinggi yang  berdaya  saing  kuat  untuk  mengejar keuntungan & peningkatan  nilai melalui prinsip Perseroan.

PT. Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) (Persero) adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam sektor perkebunan Indonesia yang berkantor pusat di Bandar Lampung, Provinsi Lampung dan bergerak di bidang agribisnis perkebunan dengan wilayah kerja di Provinsi Lampung,  Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Wilayah kerja meliputi 3 (tiga) Provinsi yang terdiri dari 10 Unit Usaha di Provinsi Lampung, 14 Unit Usaha di Provinsi Sumatera Selatan, dan 3 Unit Usaha di Provinsi Bengkulu.

Direktur Utama PTPN VII Boyke Budiono, mengatakan, sejak awal, Perseroan didirikan untuk ambil bagian dalam melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan Program Pemerintah di bidang ekonomi dan Pembangunan Nasional pada umumnya serta sub-sektor perkebunan pada khususnya. Ini semua bertujuan untuk menjalankan usaha di bidang agribisnis dan agroindustri, serta optimalisasi pemanfaatan sumberdaya Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan.

Semangat Perubahan Menuju Perusahaan Tangguh

Semangat perubahan terus ditekankan oleh para pimpinan perusahaan untuk mewujudkan Visi dan Misi Perseroan serta mencapai tujuan perusahaan dengan hasil luar biasa, dituntut semangat kerja yang tidak sekedar biasa-biasa saja. Semangat kerja diperlukan melalui semangat kuat dan luar biasa yang memotivasi dan menuntun insan Perseroan. “Semangat perubahan atau The Spirit of Change “ProMOSI” diharapkan mampu menjadi pendorong bagi setiap insan Perseroan untuk berubah menuju kondisi yang semakin baik, sehingga Perseroan dapat menjadi perusahaan yang tangguh dan terus tumbuh dengan mengimplementasikan nilai-nilai Produktivitas, Mutu, Organisasi, Servis dan Inovasi,” ujar Boyke Budiono. Melalui produktivitas upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki dan dikelola Perseroan secara transfaran, akuntabel, adil dan bertanggung jawab, agar hasil yang optimal seluruhnya dapat mencapai sasarannya.

Bidang Usaha Yang Digeluti

PTPN VII bergerak di bidang usaha agribisnis perkebunan dengan komoditas karet, kelapa sawit, teh, dan tebu. Usaha ditumbuhkan dengan jalan mengembangkan operasi berbasis bisnis inti yang mengarah ke integrasi vertikal Kebun yang dikelola oleh Perseroan meliputi kebun karet, kelapa sawit, teh dan tebu. Kecuali teh, kebun tersebut dikelola dengan menggunakan skema inti-plasma.

Boyke Budiono, mengatakan, PTPN VII saat ini sedang membangun landasan manajemen yang kuat untuk mencapai visi dan misi perseroan yang difokuskan kepada penggalian potensi internal secara optimal dan memanfaatkan peluang-peluang eksternal yang ada. Perseroan juga mengelola pabrik pengolah komoditas yang menghasilkan produk antara lain RSS (Rubber Smoked Sheet), SIR (Standard Indonesian Rubber), CPO (Crude Palm Oil), Inti Sawit, Minyak Inti Sawit, Bungkil Inti Sawit, Teh Orthodoks, Gula dan Tetes. “Perseroan mengelola budidaya tanaman dengan mengacu pada kondisi sumberdaya perseroan dan kapabilitasnya dan pertimbangan fungsional yang difokuskan kepada penggalian potensi internal secara optimal dan memanfaatkan peluang-peluang eksternal sesuai dengan komoditi di wilayahnya,” papar Boyke.

Tata Nilai Perusahaan

The Spirit of Change “ProMOSI“ ditetapkan menjadi tata nilai PTPN VII dengan Surat Keputusan Direksi Nomor: 7.6/Kpts/477/20 08 tanggal 19 Desember 2008. Tatanilai tersebut diharapkan dapat menjiwai setiap sikap dan perilaku insan Perseroan dalam aktivitas sehari-hari, baik sebagai pekerja maupun sebagai pribadi.

Dalam tata nilai The Spirit of Change “Promosi” perlu dibentuk adanya suatu komite yang dikenal dengan Komite Implementasi (merupakan organisasi fasilitator). Adapun sasaran tugasdibentuknya Komite Implementasi (organisasi fasilitator) The Spirit ofChange “Promosi”adalah tersosialisasinya maksud dan tujuan pencanangan the Spirit of Change ’ProMOSI’ kepada seluruh insan Perseroan. Selanjutnya terinternalisasinya nilai-nilai yang terkandung dalam the Spirit of Change ’ProMOSI’ pada seluruh insan Perseroan, juga terbentuknya sistem evaluasi implementasi the Spirit of Change ’ProMOSI’ dan terbangunnya kesadaran insane perseroan.

2012, Tahun Kurang Beruntung

Boyke mengatakan, pada tahun 2012 yang lalu PTPN VII menjadikan tahun tersebut tahun yang kurang baik bagi perkembangan maupun kinerja dalam diri PTPN. Dikatakan sebagai tahun yang kurang baik atau tidak beruntung dikarenakan banyak terjadinya hal-hal kurang menguntungkan yang menerpa dalam lingkungan perusahaan. Salah satu yang sangat memukul dan berimbas pada kerugian yang dialami oleh PTPN VII ialah pembakaran oleh massa atas lahan tebu yang berada diwilayah Cinta Manis. “Dari seluruh lahan yang dibakar oleh masa pada saat itu kisarannya mencapai 4000ha. Bisa dibayangkan kerugian yang telah dialami oleh PTPN VII apabila dihitung-hitung dari tiap hektar menghasilkan gula sekitar 6 ton capaiannya sudah sekitar 24000 ton gula dari pendapatan yang hilang dan ini baru dari tanaman gula saja belum lagi permasalahan-permasalahan dalam hasil pertanian yang lain,” terang Boyke.

Boyke menambahkan, dari produk CPO pada tahun 2012 lalu juga mengalami kinerja yang sangat memprihatinkan yang dikarenakan mengalami over supply dan ini akibat dari imbas krisis ekonomi yang terjadi diwilayah eropa yang berakibat dari menurunnya permintaan CPO, sedangkan dari sisi produksi di dalam negeri yang terus menerus sehingga mengalami over supply produk. Hampir seluruh produsen CPO ditanah air mengalami keadaan yang sama yakni buruknya perputaran  bisnis ditahun 2012 lalu. Bukan hanya itu menurunnya kinerja juga terjadi dari produk karet yang tengah mengalami penurunan harga pada tahun lalu, dari yang berawal harga karet mentah dapat mencapai kisaran US$4/kg mengalami penurunan hingga berkisar US$2,5/kg.

Take off Menuju Fase Pertumbuhan

Berbagai upaya dilakukan oleh PTPN VII untuk mengejar ketertinggalannya pada tahun lalu khususnya untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan. Direktur Utama PTPN VII Boyke Budiono mengatakan, pada tahun 2013 ini diharapkan perusahaan ini dapat (Take Off) lepas landas menuju fase pertumbuhan. “Saat ini proses transformasi bisnis yang dijalankan telah sesuai dengan jalur yang benar atau on the track, meski masih perlu kerja ekstra keras karena banyak sasaran yang belum bisa dicapai,” ujar Boyke.. Tahun 2013 merupakan tahun konsern PTPN VII untuk bersiap diri tinggal landas dalam peningkatan produksi dalam potensi aset perusahaan. Keluarga besar PT. Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) bertekad untuk segera mencapai visi, yaitu menjadi perusahaan agrobisnis yang tangguh serta berkarakter global. Dalam Keterangannya dengan Majalah GlobalReview, Boyke menceritakan, pada periode 2007—2013, PTPN VII berada pada fase konsolidasi. Pada fase tersebut, perusahaan telah membangun pondasi yang kuat dengan melakukan pembenahan di berbagai bidang, di antaranya membangun budaya perusahaan (corporate culture) yang baru, kode etik dan aturan main (code of conduct), serta penerapan prinsip good corporate governance (GCG). Pembenahan juga dilakukan terhadap prosedur baku (SOP), sistem administrasi dan akuntansi, sistem sumber daya manusia, dan sistem teknologi informasi.

Dalam Program replanting PTPN VII telah melakukan beberapa perubahan untuk bibit tanaman sebagai program rehabilitasi tanaman termasuk juga untuk pabrik-pabrik yang dimiliki oleh PTPN VII untuk dilakukan rehabilitasi sebagai peningkatan kapasitas. "Kebun yang sudah tua umur tanamannya juga harus direhabilitasi, diremajakan dan diganti yang muda, pabrik yang tua direvitalisasi dan ditingkatkan kapasitasnya, diverifikasi usaha juga terus dirancang untuk dikembangkan dengan memanfaatkan bahan baku yang sudah dimiliki, dan penguatan kapasitas SDM," ujar Boyke.

Pertumbuhan Produktivitas

Boyke menjelaskan pertumbuhan perusahaan selama lima tahun terakhir sangat bagus. Misalnya dari sisi aset, kini telah menembus angka Rp6 triliun dari lima tahun lalu yang baru sekitar Rp2 triliun lebih. Secara umum produktivitas dan pendapatan juga naik. “Misalnya pada karet kini produktivitasnya rata-rata di atas 1,65 ton karet kering, di atas produktivitas rata-rata karet nasional yang baru 1,2 ton per ha per tahun,” terang Boyke. Boyke menambahkan, begitu juga kelapa sawit, produktivitasnya di atas 19 ton per ha per tahun, dengan rendemen rata-rata di atas 22 persen. Kemudian untuk komoditas teh, produktivitas naik lebih dari 3 ton teh kering per ha per tahun, menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia, karena kebun-kebun lain rata-rata baru 2,3 ton.

Terkait dengan peningkatan produktivitas SDM, PTPN VII juga terus berupaya menciptakan SDM berkualitas berbasis kompetensi. “Kami berusaha secara sungguh-sungguh menyiapkan human capital. Kita ingin menjadikan SDM yang berprestasi dan berkompeten untuk menyokong kemajuan perusahaan, Pembenahan tenaga kerja termasuk kepemimpinan dilaksanakan dengan berbasis kompetensi. Dengan kompetensi, karyawan bisa dinilai, diukur, dan dikembangkan di setiap jabatan,” ujar Boyke. Lebih lanjut Boyke menjelaskan PTPN VII sudah melakukan sejumlah perbaikan, seperti menempatkan sumber daya manusia sebagai modal perusahaan, melakukan percepatan dan perbaikan kultur teknis tanam sawit, karet, teh, maupun tebu untuk memperkuat aset, perbaikan sistem kerja, dan membangun tata nilai dan budaya perusahaan.

Berbicara tentang SOP, Direktur SDM dan Umum, Budi Santoso mengatakan, pertama PTPN VII melihat pada kebutuhan perusahaan untuk tenaga kerja dalam 5 tahun kedepan semua disiplin ilmu. Kedua, dengan mengedepankan azas Good Coorporate Governance (GCG), dimana perekrutan tidak dilakukan sendiri namun dengan cara outsouce keluar. Biasanya dengan melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan perkebunan, melalui sistem pelamaran dengan online atau website dengan melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan. “Saat ini untuk perekrutan lebih banyak pada soft competence dengan observasi sampai sejauh mana calon-calon ini dapat mengobservasi suatu masalah,” ujar Budi

Mensiasati Bidang Keuangan

Sementara itu , Direktur Keuangan PTPN VII Agoes Riyanto mengatakan bahwa dalam perjalanannya sampai dengan akhir Desember 2012 pencapaian dari hasil penjualan sekitar lebih kurang Rp4,3 trilyun. Turunnya harga komoditi kelapa sawit maupun karet yang cukup signifikan berdampak pada pengurangan pencapaian pendapatan. Namun dengan harga yang demikian tersebut kami masih bisa meraup laba pada akhir tahun 2012  berkisar Rp 95,1 milyar (unaudited) papar Agoes.

Agoes juga berharap dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan terutama dengan meningkatkan produktivitas dan pengendalian biaya sesuai dengan RKAP. Alhamdullilah kami dapat mencapai sebesar itu walaupun dalam keadaan yang sangat sulit dimana pada sekitar bulan Juli 2012 pabrik gula Cinta Manis mengalami musibah dimana areal seluas ±4.025 Ha dirusak/dibakar oleh masyarakat. Hal ini mengakibatkan kami kehilangan potensi pendapatan ± Rp149 Milyar.

Agoes mengatakan bahwa pada tahun 2013, PTPN VII yakin akan lebih baik dari tahun 2012. Hal ini dengan melihat dari trend harga pasar komoditi baik karet maupun kelapa sawit yang sedikit demi sedikit menunjukkan trend kenaikan. Dan secara internal perusahaan saat ini terus melakukan upaya-upaya untuk peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya berazaskan cost effectiveness sehingga pada tahun 2013 diharapkan bisa mencapai laba maupun penjualan sesuai dengan RKAP tahun 2013 yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Kondisi harga pasar saat ini yang terus merangkak naik. Hal ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa pada tahun 2013 ini kami bisa mencapai kondisi yang lebih baik dari tahun 2012” kata Agoes. Agoes juga menambahkan dalam mencapai target-target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2013 tersebut kami juga sudah menyusun  Rencana Kerja Operasional (RKO), dengan RKO inilah sebagai alat monitoring dan pengawasan pekerjaan-pekerjaan di lapangan.

Pengembangan Produksi

Berbicara tentang produksi, Direktur Produksi, M. Natsir mengatakan, saat ini PTPN VII sedang melakukan peremajaan sehingga produksi didapat dari produksi sendiri dan pembelian dengan presentasi 35% dibanding 65%. Untuk pabrik gula perkembangannya cukup baik hanya saja pada tahun 2012 ada gangguan namun dari performan jauh lebih bagus. Tentang peternakan sapi, PTPN VII  membentuk anak perusahaan yang akan mengelola langsung mengenai sapi. Selain itu perusahaan ini juga sedang mengembangkan pabrik sawit dan pabrik karet (SIR 20).

Dalam hal pemasaran, Direktur Pemasaran dan Pengembangan, Rafel Sibagariang mengatakan, bahwa produk yang dihasilkan oleh PTPN VII  berorientasi pada keinginan dan harapan pasar.“Saya mengambil contoh minyak sawit (CPO). Keinginan pasar eksport kedepan adalah CPO dengan tingkat kandungan asam lemak bebas kurang dari 4,5% dan angka DOBI (Deterioration of Bleachability Index) minimal 2,8.

Bilamana CPO diproduksi memiliki kandungan asam lemak (ALB) diatas 5%, maka penjualannya akan mengalami kesulitan, karena daya serap pasar rendah” ujar Rafel. Rafel menambahkan, untuk produksi karet PTPN VII yang saat ini diminati pasar (baik pasar lokal maupun export) adalah SIR 20 dan RSS, meskipun ada juga produk karet SIR 3L dalam jumlah kecil yang dijual lokal,  karena produk ini memiliki daya saingnya rendah dibandingkan produk yang sama dari Vietnam.

“Jadi strateginya memang harus melihat apa maunya keinginan pasar, sehingga kami tidak terlalu kaku dalam produksi, namun kami lebih fleksible. Pengembangan yang kami lakukan yakni pengembangan sistem kerja yakni dengan melakukan review terhadap seluruh produk bisnis dan SOP yang ada, untuk menghasilkan system kerja yang efisien guna mewujudkan best practices (saat ini kami sedang mengembangkan Integritas Managemen system/IMS yang mencakup persyaratan SMN ISO-900i, SML ISO-1400i, SMK3, ISPO/RSPO dan persyaratan untuk penilaian kinerja ekselen.

Sedangkan pengembangan bisnis yang kami lakukan antara lain : mendirikan anak perusahaan untuk usaha peternakan sapi yang diberi nama PT. KARYA NUSA TUJUH. Rafel mengatakan, perusahaan ini selain akan melaksanakan program penggemukan sapi, mengolah pabrik pakan ternak, juga akan memproduksi kompos dari kotoran sapinya. Penggemukan sapi ini merupakan penugasan yang diberikan oleh Kementerian BUMN kepada beberapa PTPN termasuk PTPN VII. Selanjutnya, kami juga melakukan program pengembangan antara lain menghasilkan produk teh kemasan, produk gula kemasan dan pengembangan/pembangunan line pabrik teh CTC disamping produk teh orthodox yang sudah kami produksi selama ini, (karena teh CTC saat ini daya serap pasarnya cukup menjanjikan). [GR]

scroll back to top
 
Korporat
1000-orang-mudik-bersama-schneider Bertempat di LTC—Lindeteves Trade Center- pusat belanja beragam produk peralatan di kawasan Glodok, Hayam Wuruk Jakarta, Schneider Electric Indonesia, perusahaan global di bidang manajemen energi kembali menggelar acara “Mudik Berkah bersama Schneider Electric”. Sekitar 1.000 penjaga toko elektronik,...Selengkapnya
pt-pos-indonesia-persero-persembahkan-kinerja-terbaik-untuk-indonesia Bisnis jasa pengiriman di tanah air terus berubah dan bertumbuh, imbasnya persaingan di sektor inipun menjadi kian ketat. Setali tiga uang, ragam sektor bisnis baru yang tumbuh yang membutuhkan jasa pengiriman barang, surat, uang dan lainnyapun juga jadi pemicu bagi usaha jasa pengiriman tuk berlomba...Selengkapnya
bpjs-ketenagakerjaan-strategi-mengembangkan-kepesertaan Dalam upaya mengatasi gap yang masih terlalu jauh antara potensi kepesertaan dengan peserta yang sudah eksis di BPJS Ketenagakerjaan, maka sejumlah upaya kini tengah dibenahi, diantaranya menambah jaringan pelayanan, bekerja sama dengan pemerintah daerah, memudahkan aksesibilitas bagi pekerja yang mau...Selengkapnya
tak-ingin-merugi-tempuh-jalur-hukumAset berupa tanah yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencapai 270 juta M2 persegi atau sekitar 270 ribu hektar dan tersebar di Jawa dan Sumatera. Dari jumlah tersebut, yang telah disertifikasi tercatat 90 juta M2, sedangkan sisanya dalam proses sertifikasi. Nilainya belum bisa diestimasi...Selengkapnya
pt-kereta-api-indonesia-persero-evolusi-ala-jonan-kuatkan-keyakinan-optimisme-a-hope Sebenarnya, bila ingin menilik lebih dalam tentang sepak terjang serta kinerja KA sebagai salah satu alat transportasi umum yang ada di dunia khususnya di Indonesia, KA bukan hanya sebagai alat transportasi biasa yang khusus mengangkut penumpang tetapi juga mengangkut barang. Ini yang menjadi...Selengkapnya
djarum-foundation-usung-5-program-untuk-bangun-indonesia-bermartabatSebagai perusahaan besar yang peduli terhadap kemajuan bangsa, PT. Djarum, melalui Djarum Foundation (DF)  terus melakukan kegiatan demi memberikan pandangan positif kepada negara luar untuk mencapai Indonesia bermartabat. 5program Bakti pada negeri yang di usung DF meliputi kegiatan sosial,...Selengkapnya
pt-merpati-nusantara-airlines-terus-bertumbuh-membangun-a-persatukan-indonesia-rayaIndustri penerbangan di tanah air terus bertumbuh, kondisi ini dimungkinkan karena naturenya geografi Indonesia & jumlah penduduk sekitar 250 juta lebih dengan pertumbuhan ekonomi 6-7% yang kecepatan tumbuh industri 2 kalinya sekitar 13-14%. Tumbuhnya industri ini juga karena Indonesia yang terdiri dari...Selengkapnya
rekind-raih-bumn-innovation-expo-a-award-2013PT Rekayasa Industri (Rekind) raih penghargaan BUMN Innovation Expo and Award 2013 kategori "The Best Corporate Innovation Culture & Management" atau budaya dan Manajemen Inovasi Korporasi dengan kategori Silver.Penghargaan diberikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) Dahlan Iskan kepada...Selengkapnya
kenaikan-bbm-tak-pengaruhi-target-usahaKenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dipastikan akan berimbas pada kenaikan ongkos produksi. Kini, banyak perusahaan di Tanah Air mulai merasakan dampak kenaikan harga BBM, akibat kegiatan produksi yang masih mengutamakan BBM bersubsidi. Namun demikian, kondisi ini tampaknya tak berpengaruh...Selengkapnya