GlobalReview, Jakarta – Sebanyak 719 peserta dari 23 negara akan berkumpul di Nusa Dua, Bali, pada Senin 7 Juli 2025 dalam rangka International Leprosy Congress (ILC).
Kongres ini merupakan bagian dari upaya global untuk mempercepat eliminasi kusta, dan difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan Sasakawa Health Foundation (SHF) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr Ina Agustina Isturini, menyampaikan bahwa kongres ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas negara serta menjadi forum pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan kusta.
Baca juga: 418 Jemaah Haji Wafat, Kemenkes Minta Istitha’ah Kesehatan Diperketat
“Diharapkan pertemuan ini selain memperkuat komitmen, ini adalah kesempatan emas untuk bisa mendapatkan masukan dari para ahli maupun para penyintas yang usulannya akan bermanfaat untuk akselerasi eliminasi kusta di Indonesia,” ujar dr. Ina dalam konferensi pers daring.
Salah satu agenda utama dalam kongres ini adalah penandatanganan komitmen oleh lima kepala daerah dari wilayah dengan beban kusta tertinggi, yaitu Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Sampang, dan Kota Jayapura. Penandatanganan ini menandai keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung upaya eliminasi.
“Kusta ini sering tidak menjadi perhatian di berbagai negara, namun menjadi perhatian pemerintah Indonesia dan ini menjadi salah satu prioritas dan masuk ke dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional pada Perpres 12 tahun 2025,” ujar dr Ina.
Baca juga: Wamenkes Hadiri acara ASEAN Japan Medical Devices Regulatory Training 2025
Prof. Takahiro Nanri dari Sasakawa Health Foundation menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghapus kusta dan stigma sosial yang melekat.
“Kami bekerja sama dengan WHO dan sudah mencapai 50 tahun. Kita melalui WHO membantu sekitar 40 negara termasuk Indonesia untuk eliminasi kusta,” katanya.
Ia menyebut bahwa SHF telah mengalokasikan dana sebesar 200 juta dolar AS untuk mendukung eliminasi kusta secara global, termasuk bagi Indonesia melalui mekanisme kerja sama dengan WHO.
Ia juga menegaskan kusta bukan hanya isu medis, tetapi juga persoalan sosial dan hak asasi manusia. Sasakawa juga membantu lebih dari 30 organisasi di lebih dari 25 negara yang fokus pada pemberdayaan orang-orang yang pernah mengalami kusta.
“Tahun ini, tujuan kami datang ke Indonesia ada tiga: pertama mengorganisir Global Forum, kedua berpartisipasi dalam International Leprosy Congress, dan ketiga melakukan kunjungan ke Kabupaten Sampang bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin,” ujarnya. *













