Kota Terpadu yang Dikembangkan Summarecon Tidak Hanya Menyajikan Hunian Terintegrasi Tapi Juga Menjanjikan Peluang Bisnis

Salah satu hunian besutan pengembang perumahan Summarecon, di Summarecon Crown Gading terintegrasi dengan beragam fasilitas/Foto: Istimewa

GlobalReview-Jakarta- Di usianya yang memasuki setengah abad, 50 tahun, PT Summarecon Agung Tbk (Summarecon) pengembang properti nasional tetap konsisten dan berkomitmen mengembangkan kawasan kota mandiri yang terpadu, membentuk ekosistem yang membuat penghuninya dapat berinteraksi dan memanfaatkan segala fasilitas yang tersedia.

Kota mandiri terpadu yang dikembangkan Summarecon bukan hanya sekadar kawasan hunian semata, tetapi menggabungkan semua fungsi tempat tinggal, bisnis, pendidikan, kesehatan, rekreasi, hingga transportasi dalam satu lingkungan yang terintegrasi. Semua ini dapat ditemukan di semua kawasan yang dikembangkan Summarecon, 9 (sembilan) kota terpadu.

Baca juga:Summarecon Bandung Beri Penawaran Spesial di BRI Consumer EXPO 2025, Hari ini Terakhir

Hingga kini kawasan yang telah dikembangkan di usia ke 50 tahun adalah Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi, Summarecon Bogor, Summarecon Bandung, Summarecon Karawang, Summarecon Makassar, Summarecon Crown Gading, dan Summarecon Tangerang merupakan kawasan kota terpadu yang telah terbentuk ekosistem secara mandiri yang terus bertumbuh.

Executive Director PT Summarecon Agung Tbk, Magdalena Juliati dalam keterangannya, Jumat, 29/8/25 dari 9 (sembilan) kawasan yang dikembangkan, yang paling menggeliat diantaranya adalah Summarecon Kepala Gading, Summarecon Bekasi, dan Summarecon Mutiara Makassar.

Baca juga:Dirjen Hubdat Tinjau PT Jasuindo Tiga Perkasa, Tekankan Pentingnya BLUe dan Satu Data Bermotor

“Geliat pengembangan Summarecon Bekasi sebagai proyek kota terpadu mengubah Utara Kota Bekasi menjadi kawasan hunian dan komersial metropolitan yang berkembang. Hanya berjarak sekitar 21 kilometer di Timur Jakarta, lahan lebih dari 500 hektare (ha)  ini diposisikan sebagai kota satelit yang memadukan perdagangan dan industri,”kata Magdalena.

Flyover KH Noer Ali sepanjang kurang lebih 750 meter yang mengikat pergerakan dari Utara ke Selatan menjadi infrastruktur kunci. Sedangkan Summarecon Mal Bekasi, area perkantoran dan hotel serta sekolah Islam Al-Azhar dan BPK Penabur membentuk fondasi trafik yang stabil di kawasan ini.

Baca juga:Dari Jam Belasan Miliar Hingga Sertifikat Rumah Dijarah Massa Dari Rumah Ahmad Sahroni

“Saat ini Summarecon Bekasi sudah menjadi ikon dan destinasi, bukan hanya bagi warga Bekasi, tetapi juga kota-kota sekitarnya. Salah satunya sebagai destinasi pendidikan karena fasilitasnya sudah lengkap,” kata Magdalena.

Sementara itu Summarecon Kelapa Gading tumbuh menjadi kawasan modern yang saat ini menaungi sekitar 30.000 rumah, 2.850 apartemen, dan 2.150 ruko. Kawasan yang dulunya dikembangkan hanya 10 hektar pada 1975 kini telah berkembang menjadi 550 hektar.

Baca juga:Action Figure Iron Man Ahmad Sahroni Berharga Ratusan Juta Ikut Dijarah Massa

“Sentra Kelapa Gading menghadirkan Mal Kelapa Gading, La Piazza, Gading Food City, serta hotel HARRIS dan POP!, dengan kunjungan mencapai 38 juta orang pada 2015, menjadikannya salah satu destinasi tersibuk di Jakarta sekaligus magnet bisnis F&B, ritel dan layanan harian lainnya,”ungkap Magdalena.

Di Indonesia Timur, perusahaan berkode emiten SMRA ini mengembangkan Summarecon  Mutiara Makassar (SMM)yang dikembangkan sebagai Aeroport City seluas 400 hektar. Keberadaan kota terpadu ini memanfaatkan kedekatannya dengan Bandara dan Pelabuhan untuk menggerakkan logistik dan perdagangan.

Baca juga:Prihatin Dengan Sitnas, Garuda Astacita Nusantara Dorong Presiden Usut Otak Kerusuhan

“Di kawasan SMM ini penataannya mencakup gudang dan pusat logistik, hotel dan convention hall, kawasan perkulakan bahan bangunan, elektronik, furnitur, tekstil, serta fasilitas esensial seperti rumah sakit dan sekolah,” jelas Magdalena.

Dikembangkannya ke 9 (sembilan) kawasan oleh Summarecon menjadi kota mandiri terpadu bukan tanpa alasan. Sebab Summarecon melihat bahwa konsep kota terpadu semakin banyak diadopsi di Indonesia, dibutuhkan penghuninya.

Baca juga:Presiden Prabowo Berduka, Janji Tanggung Hidup Keluarga Affan, Ojol Korban Terlindas Rantis Brimob

Selain itu prosek berbisnis di kota terpadu kata Magdalena juga cukup besar karena menawarkan target pasar yang sudah jelas dan terintegrasi. Di dalam kota terpadu ini ada keluarga muda, pelajar, sampai profesional yang setiap hari hilir mudik dengan segala keperluannya, ada peluang bisnis di lintas segmen.

Semua fasilitas di dalam kota terpadu yang dikembangkan Summarecon saling sambung menyambung membentuk ekosistem yang menarik. Ada restoran, kafe, ritel, pusat belanja, area rekreasi sampai layanan pendidikan bisa saling mendorong trafik kunjungan.

Baca juga:Summertime Flavours, Cita Rasa Kulineran a’la Swiss-KitchenTM Restaurant di Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Selama Agustus 2025

Kota terpadu ungkap Magdalena juga punya infrastruktur kelas satu, jalan mulus, listrik dan internet stabil, pengelolaan kawasan rapi, plus keamanan 24 jam, ruang terbuka hijau, taman dan jalur pedestrian yang bikin orang betah lebih lama.

Biasanya pengembang besar kata Magdalena tidak hanya membangun gedung lalu lepas tangan. Mereka mengurus manajemen properti, promosi kawasan, acara komunitas, sampai maintenance jangka panjang, semua demi bikin tenant makin cuan. Jadi peluang bisnis kawasan kota terpadu cukup luas.

Baca juga:Strategi Jitu dan Inovasi Mengukuhkan BRI Life sebagai Pemimpin Pasar

Dari sektor makanan dan minuman, ada restoran, kafe, bakery, dan coffee shop, lalu ada  ritel & lifestyle (fashion, supermarket, gym, salon), layanan sehari-hari (laundry, klinik, daycare, co-working space), hiburan (bioskop, arena bermain, pusat seni) dan startup teknologi terakomodir karena adanya  infrastruktur digital dan basis pengguna nya.

Summarecon menyadari bahwa pengembangan kawasan kota terpadu tanpa perencanaan matang, akan dapat memicu beragam persoalan seperti  kemacetan, kepadatan, hingga kesenjangan infrastruktur. Kota terpadu yang dikembangkan Summarecon menawarkan solusi dengan tata ruang yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Baca juga:Buka Pendaftaran TKA hingga 5 Oktober, BSKAP Sediakan Fitur “Ayo Coba TKA” untuk Simulasi Latihan 

“Intinya, kota terpadu itu mesin pertumbuhan. Semua elemen, dari infrastruktur, tenant, sampai gaya hidup, menjadi magnet yang nggak pernah berhenti muter. Urbanisasi terus jalan, dan pemenangnya bukan cuma yang cepat buka gerai, tapi yang pintar memilih ekosistem tepat,”pungkas Magdalena.*