GlobalReview, Jakarta – Virus Hanta adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari tikus atau celurut melalui urin, feses, saliva, gigitan, maupun debu terkontaminasi yang terhirup. Penularan antarmanusia sangat jarang dan terbatas pada tipe tertentu.
Baca juga: Kemenkes Hadirkan Perbaikan Besar untuk Dokter Internship
Penyakit ini memiliki dua bentuk klinis, yaitu HFRS yang menyerang ginjal dan HPS yang menyerang sistem pernapasan, dengan gejala awal demam, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas.
Secara global, kasus virus Hanta banyak dilaporkan di Eropa, Asia, dan Amerika. Tipe HFRS dominan di Asia-Eropa, sedangkan HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika. Sudah ditemukan sejak 2015 dengan kasus tertinggi pada 2021 sebanyak 5041 kasus. Pada 2024-2026 data yang tersedia tidak lengkap sehingga kasusnya sedikit.
Baca juga: Kemenkes Perkuat Imunisasi Nasional, Fokus Jangkau Anak Zero-Dose
Risiko lebih tinggi pada masyarakat yang beraktivitas di area dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang lama, saluran air, lahan terbengkalai, dan lingkungan kerja tertentu. Patut diwaspadai mengingat tingkat kematiannya cukup tinggi, belum ada vaksinnya dan belum ada obatnya.
Pada keterangan tertulis yang disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman menjelaskan Kemenkes memantau klaster HPS pada kapal pesiar MV Hondius yang berangkat dari Argentina, dengan total 8 kasus, 5 kasus konfirmasi dan 3 suspek dengan 3 kematian. Meskipun kasus di kapal tersebut penularan antar manusia (jarang terjadi), tetapi sampai saat ini WHO menilai risiko penyebaran global tetap rendah dan belum merekomendasikan pembatasan perjalanan internasional.
Baca juga: Kemenkes Kick Off Imunisasi MR bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Hingga Minggu Epidemiologi ke-16 Tahun 2026, Indonesia mencatat 23 kasus konfirmasi di 9 provinsi, dengan kasus terbanyak di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Seluruh kasus merupakan tipe HFRS (Seoul Virus), berbeda dengan tipe HPS yang dilaporkan di Amerika Selatan.
“Terdapat 3 kematian, namun seluruhnya terkait ko-infeksi atau penyakit penyerta, bukan akibat langsung virus Hanta. Dua kasus suspek terakhir, telah dinyatakan negatif dan sembuh,” ungkapnya, Minggu (10/5).
Baca juga: RSUP Fatmawati Catatkan Progres Krusial Dalam Transplantasi Hati, Wamenkes: Terus Dikembangkan
Aji menyebut upaya Kemenkes memperkuat surveilans melalui skrining di pintu masuk negara, investigasi epidemiologi, dan pemantauan di 21 rumah sakit sentinel. Sebanyak 198 rumah sakit jejaring Penyakit Infeksi Emerging telah disiagakan untuk deteksi dan penanganan kasus. Laboratorium rujukan nasional siap melakukan pemeriksaan RT-PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS).
Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan situasi nasional dan global serta memastikan kesiapsiagaan nasional dalam deteksi dini serta respons cepat.
Baca juga: RSJPD Harapan Kita Perkuat Layanan Jantung Atas Dukungan King Salman Relief
“Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, tutup akses masuk tikus, dan simpan makanan dalam wadah tertutup. Bersihkan area berdebu dengan metode wet cleaning, bukan menyapu kering. Selain itu, jaga kebersihan individu dengan rajin mencuci tangan pakai air dan sabun sebelum dan sesudah beraktivitas dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam, nyeri otot, atau gangguan pernapasan terutama setelah kontak dengan area dan hewan berisiko,” tutup Aji. *













